Berita
Diskusi Penyusunan Konteks dan Profil Risiko RKP Kegiatan Prioritas Pengembangan Pangan Akuatik (Blue Food) dan Pengembangan Industri Garam dan Produk Olahan Hasil Laut Tahun 2026
Dipublikasikan pada: 2026-02-28
Jakarta, 23 - 24 Februari 2026 — Diskusi penyusunan konteks dan profil risiko RKP Tahun 2026 dilaksanakan dalam rangka memperkuat implementasi Manajemen Risiko Pembangunan Nasional (MRPN) pada Kegiatan Prioritas (KP). Kegiatan ini mengangkat dua tema utama, yaitu Pengembangan Pangan Akuatik (Blue Food) serta Pengembangan Industri Garam dan Produk Olahan Hasil Laut.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi konteks strategis dan isu utama yang memengaruhi pelaksanaan Kegiatan Prioritas, menyusun serta memetakan risiko utama yang berpotensi menghambat pencapaian target tahun 2026, serta menyusun profil risiko sebagai dasar perencanaan, pemantauan, pengendalian, dan evaluasi. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong peningkatan koordinasi dan sinergi antar kementerian/lembaga dalam mendukung pencapaian target pembangunan.
Pada Kegiatan Prioritas Pengembangan Pangan Akuatik, sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya penyediaan ikan untuk konsumsi masyarakat melalui peningkatan produksi perikanan budidaya dan tangkap. Target produksi tahun 2029 meliputi produksi ikan budidaya sebesar 8,52 juta ton, produksi perikanan tangkap sebesar 7,50 juta ton, serta nilai ekspor hasil perikanan mencapai 8,50 miliar USD. Untuk mendukung pencapaian tersebut, telah dilakukan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), dengan total 16 kali pengiriman dan produksi ikan mencapai 295 ton senilai Rp4,75 miliar hingga Desember 2025.
Dalam rangka mitigasi risiko, dilakukan pembinaan terhadap operasionalisasi bantuan KNMP, serta penguatan kontrak pengadaan dengan memastikan ketersediaan suku cadang di dalam negeri guna menjaga keberlanjutan operasional sarana pendukung.
Sementara itu, pada Kegiatan Prioritas Pengembangan Industri Garam dan Produk Olahan Hasil Laut, sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya nilai tambah, produktivitas, dan daya saing industri. Target tahun 2029 meliputi volume produksi garam sebesar 3,00 juta ton, produktivitas lahan sebesar 93 ton/ha, utilitas pengolahan garam industri sebesar 63,78%, utilitas pengolahan hasil laut sebesar 65%, serta peningkatan realisasi investasi hilirisasi garam.
Sebagai bagian dari upaya pencapaian target tersebut, telah dibangun Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur seluas 1.000 hektare. Adapun mitigasi risiko yang dirancang meliputi penetapan kebijakan alih fungsi lahan garam, sinkronisasi dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW), serta identifikasi dan pemetaan potensi lahan garam baru.
Ke depan, penyusunan konteks dan profil risiko ini diharapkan dapat memperkuat kualitas perencanaan dan pengendalian pembangunan pada Kegiatan Prioritas, sehingga setiap potensi risiko dapat diantisipasi secara lebih dini. Melalui penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dan penerapan manajemen risiko yang terintegrasi, pelaksanaan program diharapkan berjalan lebih efektif, akuntabel, dan berkelanjutan dalam mendukung pencapaian target pembangunan nasional.